Tahu dan Perilaku

21 Februari 2018 - Posted by admin

Tahu dan Perilaku

Apakah orang tidak mempraktikkan suatu perilaku karena ybs tidak tahu?

Jawabannya – tentu saja– belum tentu. Bisa saja sebetulnya sudah tahu, tapi orang itu tidak mengikuti pengetahuannya alias tidak mempraktikkan. Bahkan, bisa jadi, mereka lebih tahu dari pada orang yang telah mempraktikkan perilaku itu sendiri.

Perokok mungkin jauh lebih tahu dan hafal risiko merokok daripada orang yang tidak merokok. Bukankah mereka setiap hari memegang bungkus rokok yang berisi peringatan ini itu?

Belum lama ini, kawan yang mengelola program gizi di sejumlah sekolah menceritakan hasil pre-test di  mana rata-rata skor pengetahuan guru-guru mencapai 75. Itu adalah skor sebelum mengikuti pelatihan, yang artinya, guru-guru sebetulnya sudah cukup tahu, tanpa perlu pelatihan. Sayangnya, kebanyakan tidak mengajarkan apa yang mereka tahu.

Tidak perlu jauh-jauh, banyak juga ahli gizi mengalami masalah gizi atau masalah kesehatan akibat gizi. Padahal, mereka mestinya sangat tahu atau ahli di bidang itu.

Kesimpulannya, masalah perilaku tidak selalu bersumber dari kurangnya pengetahuan. Bisa saja karena belief (tahu, tapi tidak percaya akan manfaat atau risiko akan menimpanya), atau nilai (tahu akan manfaat atau risiko suatu perilaku, tapi tidak menganggap penting manfaat atau risiko itu).

Bisa juga karena orang itu tahu tapi orang-orang yang penting di sekitarnya menyarankan perilaku lain dan ybs lebih memilih mengikuti saran orang-orang di sekitarnya.

Jadi masalahnya tidak selalu pada tahu atau tidak tahu. Karenanya, intervensi untuk perubahan perilaku perlu dibedakan sesuai dengan masalahnya.

Kalau orang tidak tahu, maka penyampaian informasi bisa dikedepankan. Seperti di kelas, yang lebih menyasar aspek kognitif, komunikator perlu menyampaikan pesan-pesan secara jelas dan menarik.

Kalau persoalannya adalah belief atau nilai, intervensinya tentu berbeda. Dari sisi pesan, komunitaor perlu memahami terlebih dahulu belief atau nilai yang berlaku. Kalau tidak, nanti miskomunikasi.

Semisal, dulu di saat pemerintah menghapus minyak tanah dan kemudian gencar mengampanyekan LPG 3 kg disampaikan bahwa LPG lebih hemat. Sebagian pesan bahkan mengangkat tema ramah lingkungan.

Bagi sebagian warga, yang justru dipikirkan adalah risiko menggunakan LPG atau keamanannya. Apakah nanti LPG mudah meledak? Di sini terjadi miskomunikasi alias tidak nyambung.

Untuk masalah itu, komunikator perlu mengembangkan model dialog. Komunikasi dua arah, baik antara komunikator dan khalayak maupun antarkhalayak.

Kalau itu menyangkut isu sensitif, pendekatan yang dipilih bisa indirect alias tidak to the point. Contoh yang kerap menggunakan pendekatan indirect adalah model edutainment atau gabungan antara education dan entertainment

Bila lingkungan sekitar yang tidak mendukung, maka yang perlu disasar adalah norma sosial. Untuk itu, perlu dilibatkan tokoh yang kredibel, dialog dan lainnya.

Jadi, pilihan intervensi tergantung dari masalah komunikasinya. Dan untuk itu, komunikator tidak bisa berasumsi. Tidak bisa dia duduk manis di meja sambil berkhalayal mendefinisikan masalahnya. Dia mesti mempelajari khalayak dengan baik. Membaca hasil riset atau melakukan riset sendiri. Atau minimal, duduk bareng, ngobrol dengan khalayak sasaran, agar lebih memahami.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 144 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile