Hati-hati mengukur kerja pendamping

28 Februari 2017 - Posted by admin

Hati-hati mengukur kerja pendamping

Tidak semua pengelola program memahami kerja pendamping. Sebagian dari mereka mengukurnya dari aspek luaran kegiatan, seperti dokumen rencana aksi bersama, atau bahkan kelengkapan administrasi seperti kuitansi atau daftar absensi.

Ukuran-ukuran itu tentu saja tidak salah. Apalagi bila pengelola program harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan program pada penyandang dana. Namun, dokumen-dokumen itu tidak akan bermakna bila ternyata di lapangan proses yang terjadi tidak fasilitatif.

Untuk mengukur kerja  pendamping secara lebih akurat, pengelola program perlu menyempatkan diri melihat langsung kerja pendamping. Dari pengalaman Lapangan Kecil, kita patut berhati-hati memaknai sejumlah hal berikut.

1.  Partisipan protes , menolak atau menunjukkan ekspresi tidak mendukung, tanda kegagalan pendamping?
Protes tidak selalu tanda kegagalan. Kalau itu terjadi di akhir pertemuan, saat kesepakatan telah diketuk, mungkin memang pendamping telah melakukan sejumlah kesalahan dalam proses fasilitasinya.

Namun, bila protes muncul sebelum kesepakatan diketuk palu, pendamping justru berhasil membuka ruang partisipasi

2.  Bila semua atau kebanyakan partisipan mengeluarkan koor persetujuan, maka pendamping berhasil?
Hati-hati.  Apalagi koornya terkesan datar. Jangan-jangan ada yang mencari muka atau intimidasi oleh pemimpin kelompok atau mungkin fasilitatornya.

3.  Pendamping yang memegang kendali penuh, berarti bagus?
Tidak selalu. Pendamping justru tidak boleh berlaku seperti pemimpin rapat di DPR. Pendamping yang baik tidak banyak bicara. Tapi, lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Jadi, kalau melihat pendamping yang begitu kuat mengendalikan pertemuan, selayaknya pemimpin kelompok, maka berhati-hatilah, jangan-jangan tidak ada proses partisipasi.

4.  Pendamping diam atau melipir adalah pendamping yang buruk?
Ini kebalikan dari poin nomor 3. Saat pendamping diam atau melipir, jangan perhatikan pendampingnya. Justru perhatikan dampingannya. Apakah mereka bekerja secara efektif? Apakah mereka melakukan pembicaraan yang terfokus pada isu-isu yang dibahas? Bila ya, maka justru pendamping yang diam atau melipir adalah pendamping yang jempolan.

5.  Rencana aksi yang bagus, berarti bagus?
Belum tentu. Kalau prosesnya tidak partipatif, maka rencana aksi yang tampak bagus biasanya tidak berjalan. Rasanya lebih baik bila yang biasa-biasa saja, tidak transformatif dan lain-lain yang heboh, tapi bisa berjalan.

Lima di atas adalah sebagian hal yang perlu dicermati secara hati-hati. Kadang-kadang yang tampak di permukaan tidak serta merta bisa dinilai. Apalagi dengan persepektif lain, seperti perspektif manajemen.

Bagaimana bila pengelola program tidak memiliki waktu banyak untuk mengamati proses dalam satu kelompok, karena harus mengamati banyak kelompok?

Cara yang biasanya kami praktikkan, datangi satu atau dua kelompok  dan amati secara penuh. Lalu, untuk kelompok lainnya, perhatikan hubungan atau interaksi pendamping dengan kelompok dampingan. Apakah sang Pendamping sudah hafal nama dampingan? (Ini dapat diamati dalam interaksi, apakah pendamping menyebut nama dampingan); dan sebaliknya, apakah dampingan sudah menghafal nama pendamping?

Bila sudah cukup lama dan sang Pendamping atau Dampingannya ternyata masih belum saling menghafal nama, masih menggunakan pak-bu, mba-kak-mas-dik, maka proses pendampingannya bisa dipertanyakan.

Risang Rimbatmaja / www.lapangankecil.org

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 129 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile