Fasilitator dan Peneliti Kuantitatif

21 November 2013 - Posted by admin

Fasilitator dan Peneliti Kuantitatif

 

Ada kawan fasilitator yang baru saja membantu FGDs (Focus Group of Discussions) tentang kehidupan mantan pengungsi di Sulawesi. Dia bergabung bersama peneliti lain, yang sebagian adalah peneliti kuantitatif.

 

Mendengar ceritanya, kami menangkap gaya pengumpulan data yang berbeda, yang sebetulnya bersumber dari perbedaan paradigmatik. Secara sederhana, saya melihat peneliti kuantitatif yang dia ceritakan terpaku pada panduan dalam bertanya. Dan memang, kalau kita bicara studi kuantitatif, maka yang menjadi alat penelitian adalah kuesioner. Pertanyaan dibaca seperti tertulis dalam kuesioner. Tidak ditambah dan tidak juga dikurangi. Bahkan intonasi suara pun diatur agar terdengar netral. Begitu juga dengan mimik wajah, gerak tubuh dsb. Semuanya mesti netral dan juga berjarak  agar interaksi tidak saling mempengaruhi.

 

Sementara, mereka yang terbiasa menjadi fasilitator lebih menggunakan pendekatan kualitatif. Di sini, yang disebut sebagai alat penelitian, utamanya, adalah si peneliti itu sendiri. Dia tidak terpaku pada panduan. Tapi berorientasi untuk mengikuti dan memahami cerita yang mengalir dari narasumber. Seorang fasilitator, dengan segenap bahasa verbal dan non verbal berusaha memotivasi narasumber untuk bercerita. Fasilitator pun terlatih untuk menikmati cerita narasumber, merasakan emosinya dan membangun imajinasi dari cerita-cerita. Dalam bertanya, fasilitator akan mengikuti cerita dan mendengarkan secara aktif.

 

Secara ilustratif, di bawah ini adalah 2 contoh bertanya dan membangun cerita. Yang pertama adalah gaya yang terpaku pada panduan pertanyaan. Sementara, satunya lebih cenderung mengikuti alur.

 

Contoh 1

Fasilitator                    : Apa saja kegiatan posyandu di sini?

Ibu-ibu                        : Menimbang, kasih Vitamin A

Fasilitator                    : Apa lagi?

Fasilitator                    : Ibu-ibu, apa manfaat dari ASI?

Ibu-ibu                        : Supaya anak sehat, ga gampang sakit.

Fasilitator                    : Menurut Ibu, apa manfaat Vitamin A?

Ibu-ibu                        : hmmmm (berpikir keras, tegang)

                                   Supaya mata sehat

Fasilitator                    : Menurut Ibu, apa manfaat Zinc?

Ibu-ibu                        : hmmmm (berpikir keras, tegang)

 

Contoh 2

Fasilitator                     : Oh ada posyandu di sini..? (intonasi ingin tahu, mata terbuka lebar)

Ibu-ibu                         : Ada dong mas...posyandu di sini aktif banget kok

Fasilitator                     : Aktif apa saja, bu? (teknik mendengarkan aktif)

Ibu-ibu                         : Iya, setiap bulan buka, anak-anak ditimbang, terus anak-anak

        dikasih Vitamin A setahun dua kali, bulan Februari dan Agustus.

Fasilitator                     : Vitamin A? Yang warna putih itu...?

Ibu-Ibu                         : Kok putih? Itu yang merah itu lho, yang di pencet.

Fasilitator                     : Oh yang itu. Kapsul merah (sambil memperagakan memencet

                                     kapsul). Yang untuk…..?(teknik mendengarkan fasilitatif)

Ibu-Ibu                         : Ya, supaya anak kita sehat toh mas. Supaya sehat matanya. Supaya

                                      ga gampang sakit. Itu loh, apa katanya, lebih imun…hmm, itu lho

                                      daya tahan tubuh meningkat.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 157 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile