Bertanya tidak selalu baik

28 Mei 2017 - Posted by admin

Bertanya tidak selalu baik

Pekerjaan utama pendamping adalah bertanya. Di atas kertas, dengan bertanya, pendamping terlihat menghargai pengetahuan, pengalaman dan kemampuan dampingannya. Namun, sesungguhnya, bertanya tidak selalu berarti baik. Tanpa disadari, bertanya juga bisa ditangkap sebagai perilaku buruk.

Pengalaman menjadi observer di beberapa penelitian tentang guru menghasilkan catatan tentang perilaku bertanya dan impresinya, sbb.

Bertanya untuk menguji. Di sini, murid ditanya dalam rangka memastikan penguasaan materi. Untuk kelas belajar, maksud ini sah-sah saja. Namun, saat mendamping pertemuan kelompok warga, kita perlu berhati-hati untuk menghindari rasa malu bila warga tidak dapat menjawab atau menjawab salah.

Bertanya untuk menghukum. Guru biasanya menggunakan cara ini saat menjumpai muridnya mengobrol atau tidak memperhatikan. Guru lantas melontarkan pertanyaan yang dia tahu sulit dijawab. Kadang dengan mencecar. Murid kemduian diam, terpojok atau kalau sensitif, merasa dibodoh-bodohkan. Saat mendamping kelompok, meski, entah karena apa, pendamping tersulut emosinya, bertanya untuk menghukum tidak boleh dilakukan.

Bertanya untuk memamerkan. Adakalanya guru bertanya sekedar untuk menunda keterangan yang dia tahu murid-muridnya tidak menguasai. Saat melakukan ini, komunikasi nonverbal akan banyak menentukan apakah ybs terlihat sombong atau sebaliknya, ikhlas berbagi.

Bertanya sebagai pemanasan. Ini mirip-mirip dengan check-in talk. Bukan pertanyaan basa-basi yang jawabannya tidak diperhatikan, namun semacam pertanyaan untuk membuat murid nyaman dengan membuat mereka mulai berbicara hal-hal yang mudah dijawab.

Bertanya untuk membantu mengasah atau meningkatkan kemampuan. Praktik agak jarang terlihat. Di sini guru bersikap lebih suportif, baik verbal dan nonverbal. Secara verbal, ini ditunjukkan di antaranya dengan 1) menyampaikan kata-kata yang menjembatani (supaya, agar, contohnya..? dll), 2) menyampaikan analogi (kalau semut, ngumpulnya di…? Nah bagaimana dengan..?), 3) membantu murid mengingat-ingat atau berefleksi (ingat pelajaran tentang..?), dan yang tingkatnya lebih tinggi 4) melatih pola pikir, seperti men-deduksi atau meg-induksi (contoh deduksi, seperti saat membahas  bahwa sesama teman diharapkan bersikap baik, guru kemudian bertanya sikap-sikap keseharian yang baik dan kurang baik). Secara nonverbal, cara bertanyanya ditunjukkan dengan paralaguange (nada bicara, dinamika, kecepatan dll), mimik, gesture tubuh yang positif.

Sebagai pendamping, kita perlu mengutamakan dua terakhir di atas. Yang tiga pertama harus kita hindari. Dan semuanya berpulang kepada maksud. Bukan masalah bertanya-nya.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 184 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile