Paradigma “Itu salah, ini yang benar!”

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Paradigma “Itu salah, ini yang benar!”

Dalam suatu workshop yang difasilitasi sekelompok fasilitator, kami mengamati seorang fasilitator mengundang perhatian kolega-koleganya. “Salah itu! Bukan begitu, itu fatal sekali salahnya!” ujarnya pada sejumlah partisipan workshop, yang umumnya sudah berusia kepala empat.

 

Beberapa kawan fasilitator kemudian berdiskusi tentang salah atau benarnya praktik yang ditunjukkan partisipan workshop. Sebagian mengatakan benar, sebagian lagi mengatakan itu salah.

 

Bagi kami, persoalannya bukan salah atau benar partisipan. Masalahnya bukan pada salah benarnya urusan penerapan teknik/ metode.

 

Mengatakan sesuatu itu salah dan hanya ada satu yang benar adalah menyangkut cara pandang, paradigma atau worldview. Di dalamnya ada nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, asumsi-asumsi yang sifatnya hanya dipercayai saja tanpa diuji.

 

Mereka yang berpandangan positivistik melihat bahwa dalam realitas sosial ini ada The Truth alias kebenaran tunggal. Kebenaran itu terlepas dari manusia atau masyarakat itu sendiri. Mereka percaya ada rumus untuk “mengolah” atau merubah masyarakat. Dan rumus itu sifatnya universal dan pasti. Kalau masyarakat dibegini-begitukan, maka akan jadi begini begitu.

 

Nah, mereka yang mudah mengatakan sesuatu itu salah dan hanya hal lain yang betul, cenderung berparadigma positivistik. Mereka percaya pada satu metode (atau satu paket metode), satu teknik (atau satu paket teknik) untuk merubah masyarakat.

 

Dalam mentransfer pengetahuan atau keterampilan, para positivistik juga berpedoman pada panduan/ manual baku. Dengan demikian, partisipan workshop harus belajar sesuai manual. Mereka kurang peduli pada interpretasi, inovasi atau kreativitas subjek, semisal partisipan sebagai subjek pembelajaran yang ikut membangun realitas sosial. Ringkasnya, yang lain itu salah.

 

Memang, mungkin saja, metode yang ditawarkan fasilitator yang suka menyalah-nyalahkan itu benar. Cuma, persoalannya, paradigma positivistik itu bertubrukan dengan kerangka kerja fasilitasi yang mendasar.

 

Positivitik itu lahir dari rahim ilmu eksakta. Paradigma itu dipakai fisikawan, ilmuwan biologi, ahli kimia, dan lain-lain. Positivistik kemudian diadaptasi oleh ilmuwan sosial di abad ke 19 namun di abad 20, paradigma itu banyak penentangnya.

 

Pada dasarnya, kerangka kerja fasilitasi lebih bersandar pada paradigma konstruktivis, yang menghargai temuan orang lain, pemaknaan bersama dan kolaborasi dalam menemukan kebenaran. Menurut para konstruktivis, tidak ada itu yang namanya The Truth, yang ada adalah

 a truth , yang sangat kontekstual, milik setiap komunitas, dan dikembangkan bersama subjek dan juga fasilitatornya.

 

 

 

Risang Rimbatmaja

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 170 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile