Guru ideal: kompeten dan disukai murid

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Guru ideal: kompeten dan disukai murid

Seorang guru bisa saja dianggap kompeten, dan di sisi lain, kurang disukai murid-muridnya. Sebaliknya, dia bisa juga disukai murid-muridnya padahal tidak kompeten.

 

Yang jelas, seperti disimpulkan Frymier dan Thomson (1992), pengajaran yang efektif ternyata mesti didukung oleh keduanya, kompetensi dan juga disukai.

 

Paul dan Caseau (2004) meletakkan kedua dimensi itu dalam konsep kredibilitas.  Dimensi pertama, kompetensi  mengacu pada content knowledge (pengetahuan tentang subjek pelajaran dan struktur pengorganisasiannya) yang dimiliki guru atau pelatih. Jadi, guru yang kompeten adalah yang memahami subjek pelajaran secara mendalam. Tahu cara mengajarkananya dll.

 

Sementara dimensi kedua adalah karakter yang merujuk pada sejauh mana dia dapat dipercaya oleh muridnya.  Termasuk di sini adalah aspek-aspek seperti jujur, adil, handal, cepat tanggap, tulus, konsisten dalam nilai dan perilaku dan juga menepati janji.

 

Kadang kita menduga dimensi kedua atau karakter hanya diperlukan dalam kelas-kelas usia muda, seperti TK atau SD. Seperti sering kita dengar, anak-anak biasanya suka ke gurunya karena gurunya baik (meski belum tentu memiliki content knowledge yang mumpuni). Tapi, faktanya, kelas-kelas yang lebih tinggi bahkan mahasiswa pun banyak menilai dosennya dari aspek karakter. Kalau pintar, berpengalaman tapi killer, tidak bisa disanggah, tidak mau mendengarkan mahasiswa, apa mungkin disukai mahasiswa?

 

Terkait dengan bahasan kerja fasilitasi, saya mendapati bahwa strategi untuk mengembangkan dua dimensi yang penting untuk pengajaran yang efektif (kompetensi dan karakter) ternyata banyak persamaannya dengan peran seorang fasilitator. Contohnya adalah hasil penelusuran Frymier dan Thomson (1992) yang mengidentifikasi 12 strategi sebagai berikut.

 

  1. Mendengarkan/ menyimak perkataan murid
  2. Mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan
  3. Mengembangkan dinamika, baik pada diri sendiri maupun murid
  4. Mengembangkan keterbukaan pada diri murid
  5. Bersikap optimis
  6. Bersikap sensitif dengan komunikasi yang empatik dll
  7. Mengelola percakapan yang sehat
  8. Menunjukkan diri yang nyaman dan percaya diri
  9. Menujukkan komunikasi non-verbal yang mendukung
  10. Altruisme atau mementingkan kepentingan murid
  11. Menunjukkan kemampuan diri yang menarik
  12. Bisa dipercaya dengan menunjukkan sikap jujur, adil, handal, cepat tanggap, tulus, konsisten dalam nilai dan perilaku dan juga menepati janji

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile