Cita-cita yang memotivasi

24 Februari 2018 - Posted by admin

Cita-cita yang memotivasi

Untuk memotivasi anak didik, guru fasilitator kadang memulai dengan sesi menguak dream, tentang apa cita-cita mereka kelak. Biasanya, anak-anak didik akan menyebut beragam cita-cita. Ada yang ingin jadi dokter, polisi, tentara dan lainnnya.  

Harapannya, pengungkapan cita-cita, yang disertai apresiasi guru, bisa menjadi sumber motivasi.

Tapi pengungkapan cita-cita tidaklah cukup. Agar menjadi sumber motivasi yang awet, pengenalan cita-cita mesti dilengkapi dengan diskusi tentang alasan memilih suatu cita-cita atau tujuannya. Nah, di sini ada baiknya kita memperhatikan temuan Angela Duckworth, dalam bukunya Grit, the Power of Passion and Perseverance (2016). Lihat link di bawah untuk pemahaman dasar tentang grit.

Duckworth mempelajari tujuan (cita-cita) sebagai sumber motivasi di mana tujuan dibaginya ke dalam dua kategori, self-oriented dan other-oriented. Yang self-oriented berbicara mengenai tujuan pribadi, semisal saya ingin menjadi dokter supaya (saya) kaya atau saya ingin jadi musisi supaya (saya) terkenal. Sementara, other-oriented merujuk pada manfaat bagi orang lain. Semisal, saya ingin menjadi polisi supaya bisa melindungi masyarakat dari orang jahat. Atau, saya ingin menjadi dokter supaya bisa membantu orang-orang kampung yang sakit.

Mana di antara kedua itu yang paling memotivasi dalam jangka panjang?

Ternyata bukan salah satu. Kalau hanya mengandalkan tujuan untuk diri sendiri atau hanya untuk orang lain, api motivasi-nya ternyata tidak berlangsung lama alias bakal kehabisan bensin.

Studi yang ada ternyata menunjukkan dua sumber motivasi itu harus berjalan beriringan, saling menguatkan.

Keduanya bisa saling mengisi di saat salah satu sedang kehabisan. Saat tujuan pribadi, semisal mencari pemasukan, tidak berhasil dicapai, orang bisa tetap termotivasi dengan melihat tujuan sosial, membantu orang lain dan kemudian mensyukuri kebahagian yang dipancarkan orang-orang yang dibantunya. Demikian pula sebaliknya.

Lantas bagaimana menerapkan temuan Duckworth dalam sesi dreaming bersama anak-anak?

Yang jelas sesi-nya tidak bisa berlangsung cepat dan mungkin perlu beberapa kali interaksi. Setelah mengenal cita-cita anak, guru fasilitator bisa bertanya apa alasannya memilih cita-cita itu? Apa tujuannya? Supaya apa?

Saat ini berfokus pada tujuan pribadi, guru fasilitator dapat membantu anak didik untuk menggali dan menemukan tujuan untuk orang lain. Guru fasilitator dapat bertanya, kira-kira apa manfaatnya bagi masyarakat? Keluarga?

Kalau anak didik berfokus pada tujuan untuk orang lain, guru fasilitator dapat membantu anak didik menggali tujuan untuk sendiri. Apa yang kamu suka dari seorang dokter? Kira-kira apa enaknya?

Dengan demikian, pengenalan cita-cita bukan menjadi sekedar sesi cerita omong kosong, tapi jadi lebih membekas dan memotivasi anak didik.

 

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

 

 Pengertian dasar tentang Grit bisa ditemukan dalam artikel ini http://www.lapangankecil.org/refleksi_dan_riset89_ciri_dampingan_yang_akan_sukses.html

 
  

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 152 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile