Beda kelas yang partisipatif dengan kovensional – bagian 2

20 Desember 2017 - Posted by admin

Beda kelas yang partisipatif dengan kovensional – bagian 2

Ciri kedua menurut Kaner (2007) merujuk pada sikap dan perilaku anggota kelas itu sendiri. Di kelas yang konvensional anggota sering menginterupsi satu sama lain. Sementara, di kelas yang partisipatif, anggota saling memberi ruang untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.

Biasanya, perilaku saling menginterupsi bersumber dari pemahaman kelas sebagai arena kompetisi semata. Karena itu, anggota kelas berlomba-lomba mengemukakan ide atau bahkan menonjolkan diri.

Partisipasi secara individual memang bisa dikatakan tinggi. Namun, sebagai kelas, itu tentu tidak menjadi partisipatif.

Kami jadi teringat pengalaman waktu memfasilitasi pertemuan siswa dari sejumlah SMA d Jakarta Barat. Saat diskusi, ada siswa yang mengangkat tangan untuk kawannya. Kejadiannya, jika diilustrasikan, kurang lebih sbb.,

Adi                     : (mengacung tangan)

Fasilitator            : Ya, Adi.

Adi                     : Kak, ini Budi punya pendapat bagus. Bagus banget.

Budi                    : (setengah berbisik) Di, apaan sih ah

Adi                     : Eh, sampaikan, bagus banget. Semua harus tahu. Ayo, sampaikan Bud!

Fasilitator            : Naah, bagaimana Budi?

Budi                    : Begini……………..(menyampaikan pendapatnya)

 

Dalam kasus itu, Adi membuka ruang bagi kawannya. Padahal bisa saja dia berbicara atas nama Budi. Atau membiarkan Budi berdiam diri, tidak menyampaikan pendapatnya. Atau, yang lebih parah, bisa saja dia mencuri ide Budi dan menyampaikannya sendiri.

Kelas partisipatif lebih dari sekedar semua orang menyampaikan gagasannya. Namun, lebih dari itu, kelas partisipatif dicirikan dari anggotanya yang saling membantu untuk mengutarakan gagasan.

Dalam kelas partisipatif, anggotanya merasa sungkan untuk mendominasi. Kalau sudah bicara sekali dua kali, dan melihat ada anggota lain yang belum muncul ingin bicara, maka dia mengerem diri.

Dalam kelas partisipatif, anggota kelas juga akan memotivasi rekan mereka yang diam untuk memunculkan diri. Bukan sebagai bentuk sindir menyindir, tapi dorongan dengan dasar kepedulian.

Saat kelas dikelola guru atau fasilitator, sikap itu bisa dibaca. Kalau pun tidak secara verbal menyampaikan secara lisan dukungan ke rekannya, fasilitator mesti dapat membaca yang nonverbal, seperti dari pandangan mata, anggukan, mimik wajah, tangan dan sebagainya.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 125 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile