Belajar dari FNS – Facilitator Network Singapore

By admin

Dua tahun lalu, tahun 2008, dua fasilitator Singapore, Prabu Naidu dan Janice Lua mengisi sessi belajar fasilitasi IFN – Indonesia Facilitator Network di Jakarta. Topiknya The Art and Science of Facilitation.

Pada kesempatan itu Prabu dan  Janice melakukannya secara pro bono alias gratisan. Tiket pesawat pun tidak berkenan untuk diganti. Secara ekplisit, kala itu fasilitator Lapangan Kecil yang menjadi anggota IFN berjanji suatu saat akan balik mengunjungi FNS.

“Butuh dua tahun untuk akhirnya Anda datang ke Singapore. Tapi, that’s fine, you’ve kept your promise,” ujar Prabu membuka sessi FFW – Foundational Facilitation Workshop yang diikuti sekitar 16 partisipan termasuk sektor bisnis, pendidikan, kementerian pertahan dan angkatan udara.

Lapangan Kecil menjadi observer sekaligus partisipan aktif selama tiga hari berturut-turut (24-26 Februari 2010) yang bertempat di Fort Canning Lodge, dekat jalan terkenal, Orchad Road.

Pada intinya FNS banyak berkiblat pada model fasilitasi Ingrid Bens, bahkan mereka menggunakan bukunya sakunya, Facilitation at a Glance. Tapi, mereka juga mengangkat banyak pengalaman praktik, baik di sektor bisnis maupun publik. Permintaan akan fasilitator memang cukup tinggi karena banyak organisasi di sana ingin menggalang partisipasi serta membangun komitmen anggotanya. Persaingan yang sangat tinggi di sektor bisnis membuat banyak organisasi membutuhkan karyawan yang berkomitmen tinggi. Sementara, di sektor publik, perubahan generasi dan tuntutan publik telah mengedepankan aspek partisipasi.

Sebagai contoh yang mengagetkan, sebagian partisipan ternyata staf Kementerian Pertahanan dan Angkutan Udara yang berusia relatif muda. Bicara dengan mereka, ternyata di tingkatan manajemen, keputusan diambil secara partisipatif. ”Kita sudah tidak bisa asal instruksi lagi sekarang. Sudah bukan jamannya lagi,” ujar salah satu dari mereka. ”Tapi di lapangan, berhadapan dengan tugas lapangan, sifatnya tentu komando,” dia melengkapi.

Sessi tiga hari itu diisi oleh 30% teori dan 70% praktik. Dua fasilitator senior, Prabu Naidu dan Ng Choon Seng membantu proses belajar partisipan. Banyak yang didapat dari sessi itu. Di akhir acara, Choon Seng memberi sebuah buku menarik yang pas sekali dengan pendekatan utama Lapangan Kecil, Consensus through Conversation karya Larry Dressler.

Tags: , ,

Artikel Terkait :
  • » Mendiskusikan jamban.......
  • » Ujicoba Penyuluhan Yang Fasilitatif
  • » Sessi Belajar Fasilitasi di FK Atmajaya
  • » Menjajal semi OST (Open Space Technology) di Meeting FKGK
  • » Belajar Fasilitasi di Jogja
  • » Undangan Workshop IFN - 1 Agustus
  • » 18 Juli 2009: Meeting dengan Fasilitator Lintas Budaya
  • » 29 Mei 2009: Bersama Kawan Mengejar Cita-Cita

  • Leave a Reply