Menjajal semi OST (Open Space Technology) di Meeting FKGK
Ada yang berbeda di pertemuan semesteran Forum Komunikasi Gizi dan Kesehatan (31 Juli 2009). Pertemuan yang berlangsung di Seameo UI mencoba-coba gaya yang lebih partisipatif seperti OST (Open Space Technology).
Tapi, tidak full, tentu hanya semi OST. Seperti dialami banyak fasilitator, OST mesti dikenalkan selangkah demi selangkah. OST yang mendadak kerapkali membuat kabur partisipan.
Sekedar latar belakang, apakah OST itu?
OST sebetulnya bukan teknik pertemuan yang baru. Penggagasnya, Harrison Owen, justru percaya OST sudah setua manusia. OST itu dipandang sebagai bentuk naluriah pertemuan antara manusia.
Dalam konteks modern, pertemuan justru dapat membatasi kemampuan manusia. Mungkin kita biasa mengamati (atau mengalami!) bahwa pembicaraan, kesepakatan, negosiasi, ataupun kesepemahaman terbaik justru terjadi di luar ruang pertemuan. Hal-hal terbaik justru terjadi pada saat rehat kopi atau makan siang atau pada saat melipir ke luar ruangan. Lho? Jadi kenapa ruh seperti pembicaraan di rehat kopi atau makan siang yang dikembangkan?
Dalam OST, tidak ada agenda, pemimpin rapat dll. Orang bisa menawarkan apa yang ingin didiskusikan dan datang ke kelompok diskusi yang dia inginkan atau meninggalkan yang dia tidak berkontribusi ataupun belajar darinya.
Ada 4 prinsip dan 1 hukum yang kerap diikuti. Prinsipnya adalah 1)Whoever comes is the right people. Hal mendasar adalah orang yang memiliki kepedulian. Dengan muncul di sebuah kelompok diskusi, dia menunjukkan kepedulian, 2) Whatever happens is the only thing that could have, 3)Whenever it starts is the right time dan 4) When it’s over it’s over. Sementara, hukum OST adalah Law of Two Feet yang prinsipnya adalah: bila Anda tidak belajar atau berkontribusi pada sebuah kelompok diskusi, maka gunakan dua kaki Anda untuk pergi dari suatu kelompok menuju kelompok yang lebih memberi pembelajaran dan Anda sendiri mau berkontribusi.
Lantas bagaimana sebagian prinsip OST diterapkan di pertemuan FKGK. Yang terjadi adalah 1) pengacakan partisipan dan dilanjutkan dengan proses berkenalan, 2) presentasi narasumber, 3) dengan metaplan cards semua partisipan mengajukan topik-topik untuk dibuat diskusi kelompok, 4) partisipan mendiskusikan, mengelompokkan dan memilih topik-topik untuk diskusi kelompok. Di sini muncul 3 topik/ kelompok, 5) pemilik topik terpilih menjadi fasilitator sementara partisipan bebas memilih kelompok diskusi, 6) putaran berikutnya, partisipan berpindah-pindah kelompok/ topik, dan 7) partisipan mencoba membuat rangkuman/ kesepemahaman diskusi.
Tidak terasa 4 jam pertemuan lewat begitu saja. Mungkin benar juga pendapat bahwa ketika manusia diberi situasi pertemuan yang sesuai dengan nalurinya, maka semangatnya akan membumbung tinggi
