<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LapanganKecil.Org</title>
	<atom:link href="http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lapangankecil.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Aug 2010 12:44:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mendiskusikan jamban&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=749</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=749#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 12:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA-CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitasi jamban]]></category>
		<category><![CDATA[jamban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[Di awal Agustus ini saya mendapat tugas memfasilitasi diskusi ibu-ibu di sebuah desa di sebuah kabupaten di Jawa. Mereka belum pnya jamban di rumah. Jadi, mereka tidak seperti 60-70% rumah di Indonesia yang dengan leluasa bisa buang air besar di rumah masing-masing. Ibu-ibu yang miskin itu melakukannya di parit dekat sawah atau di bawah rumpun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di awal Agustus ini saya mendapat tugas memfasilitasi diskusi ibu-ibu di sebuah desa di sebuah kabupaten di Jawa. Mereka belum pnya jamban di rumah. Jadi, mereka tidak seperti 60-70% rumah di Indonesia yang dengan leluasa bisa buang air besar di rumah masing-masing. Ibu-ibu yang miskin itu melakukannya di parit dekat sawah atau di bawah rumpun bambu. Sebagian lain menumpang di tetangga atau saudara. Tentu tidak selalu bisa menumpang, karena kalau pemilik rumah sudah terlelap, sungkan juga mengetuk pintunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diskusi dimulai dengan perkenalan tim dan tujuan dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seperti, berapa anak ibu? berapa usia mereka? dan lain-lain. Seperti biasa, saya selalu memastikan setiap orang berbicara paling tidak 3 kali sebelum diskusi yang lebih serius dimulai. Pengamat yang hadir kebetulan tidak paham dan sempat bertanya tentang ini. Kenapa begitu lama? Jawaban saya: ada dugaan kuat ibu-ibu dari rumah tangga miskin seperti mereka pastilah jarang atau malah tidak pernah mendapat kesempatan berdiskusi seperti ini. Belakangan, di sesi akhir diskusi, terbukti tidak satupun dari mereka pernah mengikuti rapat, baik di RT, RW apalagi d balai desa seperti ini. Indonesia betul.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk kasus yang ekstrim, biasanya saya memberikan porsi sampai 60% dari total waktu untuk proses pemanasan ini, tapi karena ini tidak ekstrim, 30 menit saja saya rasa sudah cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah saya yakin semua bicara sekitar 3 kali, saya lihat wajah ibu-ibu cukup siap untuk bicara lebih serius. Indikator yang saya pakai sederhana saja. Pertama, ketika bicara mata mereka berkomunikasi dengan mata saya. Kedua, sudah mulai ada celutukan-celutukan yang berkesan mau nimbrung dan bukan sekedar bercanda. Ketiga, ketika bicara tidak lagi celingukan mencari dukungan teman. Keempat, posisi tubuh mulai rileks. Hmmm…kelihatannya, empat ini bukan indikator sederhana ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Diskusi dibuka dengan pertanyaan <em>grandtour</em> dengan model <em>third person</em>: di mana biasanya orang-orang di kampung ini buang air besar? Respon yang didapatkan  sebetulnya ramai dan beragam, tapi saya merasa ada yang janggal. Ada satu dua orang yang mencoba mendominasi dan mendikte. Dengan menggunakan bahasa Jawa mereka mendikte: si Pak anu kan buang air besarnya di situ bukan di sini dan sebagainya. Saya pelajari apa yang tengah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu-ibu kemudian dibagi dalam 4 kelompok. Tidak dibagi berdasarkan kriteria, tapi hanya berdasarkan hitungan. Menghitungpun boleh pakai bahasa jawa <em>ji, ro, lu pat</em> lalu berulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Masing-masing diberi tugas, yakni menjawab pertanyaan: apa kebutuhan-kebutuhan ibu-ibu yang utama? Mereka diminta membuat rangking dan memikirkan di mana ranking si jamban. Berdikusilah mereka sekitar 3 menit. Sehabis itu, tampillah satu per satu wakil kelompok. Seperti biasa saya alami, sang penyaji selalu menghadap saya sebagai fasilitator, seolah ingin melapor. Saya langsung meminta dengan tangan saya agar sang presenter bercerita pada ibu-ibu yang lain, bukan ke saya. Gerak saya ke arah kiri, ke arah sang presenter juga membantu agar dia tidak berusaha ”melapor” ke saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata, kesemua kelompok menempatkan jamban sebagai kebutuhan dengan ranking terakhir, bahkan kebanyakan tanpa rangking. Artinya, ”Bila ada uang, baru jamban, Pak,” kata mereka. Pengamat diskusi saya lihat menggeleng-geleng kepala mendengar keterangan penerjemah di sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ranking pertama, kedua dan ketiga di semua kelompok adalah membeli makan, sekolah anak (kenapa bisa begini ya? katanya sekolah gratis?!!??) lalu listrik (ya ampun!). Lalu ada kelompok yang mengangkat kebutuhan untuk jajan anak, ada juga yang bilang kebutuhan kalau sakit (saya jadi ingat kaos Insist: jangan sakit kalau masih miskin).</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm..sampai sini jelas jamban bukan hal yang penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang diskusi saya kembali perhatikan ada 1-2 orang yang cukup menganggu. Sok mendikte. Saya jadi sadar, meski pakaian cuma keren sedikit, mereka pasti bukan ibu-ibu miskin biasa. Apakah mereka kader yang dititipkan dalam diskusi? Atau bahasa halusnya, mendampingi? Langsung saya putar otak bagaimana caranya meminggirkan mereka yang bisa membuat ibu-ibu miskin ini terpinggirkan suaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya lalu membagi kelompok. Seperti biasa, saya berikan tugas diskusi kelompok sebelum membagi kelompok. Tugasnya adalah, apa enaknya dan ga enaknya buang air besar di tempat yang ibu-ibu pakai saat ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kemudian membentuk kelompok, 3 kelompok tepatnya: 1. mereka yang punya WC di rumahnya, 2. Mereka yang BAB di sungai atau di bawah kerindangan rumpun bambu, dan 3. mereka yang sering numpang. Yang memiliki WC ada tiga dan mereka saya duga kader-kader di kampung. Mereka saya tempatkan di pojok kiri, menyempil sehingga tidak dominan. Diamlah mereka di sana. Kata orang Bogor, <em>ngajedog sia teh di ditu nya</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling banyak adalah yang di kali atau di bawah rumpun bambu. Setengahnya, numpang di tetangga atau saudara.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang buang di sungai kemudian menyajikan hasil diskusinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ga enaknya,<br />
”Kalau sakit susah”<br />
”Malam atau siang sama-sama membuat malu”<br />
”Kalau hujan repot”</p>
<p style="text-align: justify;">Enaknya,<br />
”ga ada”</p>
<p style="text-align: justify;">Yang numpang bilang ”ga repot”. Ga enaknya ”kalau tetangga atau saudara ga ada di rumah mereka mesti cari sungai atau semak-semak.”  Yang pasti, mereka sebetulnya malu numpang melulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara, penyakian kelompok terakhir, ya begitulah. Dengan bangga menceritakan enaknya buang air besar di rumah dan ga enaknya, ”ga ada”. Hmmm, pantas saja banyak penyuluhan ga didengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Diskusi menyentuh aspek yang lebih dalam. Kenapa? (Pertanyaan kenapa, seperti biasa, ditempatkan setelah pertanyaan-pertanyaan mudah dimunculkan. Kenapa kan susah bener jawabnya). Kenapa ibu-ibu tidak membangun jamban?</p>
<p style="text-align: justify;">”Kami tidak punya uang. Kami pengen jamban, (karena) susah dan malu kami ga punya. Ga enak ga punya jamban, Pak.” Begitulah lontaran-lontaran dari mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">”Memangnya, untuk membuat jamban perlu uang berapa kira-kira ya?” tanya saya.</p>
<p style="text-align: justify;">”100 ribu?”<br />
”Ga cukup, Pak!!!”</p>
<p style="text-align: justify;">”Ya sudah, 200 ribu?”<br />
“Ya ga cukuppppp!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“500 ribu?”<br />
“Kurang, Pak. Semen saja sudah berapa Semarang satu saknya!!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“1 juta deh?”<br />
…..”iya cukup mungkin, Pak” ujar sebagian dari mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya paham sekarang. Ternyata, mereka berpikir tentang 1 juta. Saya coba gali lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">”Baiklah ibu-ibu,” kata saya. ”Punya cita-cita boleh, toh? Boleh tidak punya cita-cita?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya boleh, Pak,” ujar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">”Sekarang, katakanlah ibu-ibu punya cita-cita kuat, pengeeeeen banget punya jamban. Supaya ibu ga susah lagi, ga malu lagi. Untuk itu ibu kemudian mulai menabung. Nyisihin uang yang ibu peroleh sehari-harinya. Kira-kira berapa lama? 5 bulan? 12 bulan? Setahun setengah”</p>
<p style="text-align: justify;">”Mari kita tenang, pikirkan. Hitung-hitung, yuk!” pinta saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Senyap sebentar, kemudian masing-masing saya minta untuk berbagi.</p>
<p style="text-align: justify;">”Saya insyaAllah bisa 3 tahun, Pak. InsyaAllah, Pak.”</p>
<p style="text-align: justify;">”Saya 4 tahun, Pak.”</p>
<p style="text-align: justify;">”Kalau saya nabung benar-benar, 2 tahun bisa, Pak. InsyaAllah, Pak.”</p>
<p style="text-align: justify;">Deg! Estimasi paling cepat 2 tahun. Untuk mengumpulkan 1 juta rupiah. Sedih mendengarnya. Seperti ini ternyata negeri saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jamban adalah masalah harga diri. Membiarkan ibu-ibu dan keluarganya terhalang faktor ekonomi sehingga buang air besar di ruang terbuka atau menumpang&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara, ada pendekatan pembangunan sanitasi yang berupaya memunculkan kejijikan karena <em>tai</em> akan mencemari minumannya. Seorang sanitarian yang saya temui bercerita, “Saya minta si ibu membayangkan serbuk seperti <em>tai</em>. Ya, ini tai ibu ya. Lalu serbuk itu ditaruh di aqua gelas dan kemudian saya minta si ibu meminumnya. Ayo minum bu! Minum bu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Terang saja Si Ibu menolak karena jijik. Tapi apakah karena tidak jijik kemudian dia tidak membangun jamban? Bukankah dia sudah merasa ibu-ibu lain yang sudah punya jamban melihatnya dengan risih atau mungkin jijik? Lantas, untuk apa pula dibuat jijik? Wong, yang menjadi sebab adalah tidak punya uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang saya pikir, kita sering mengadopsi pendekatan dari luar negeri mentah-mentah tanpa mempelajari apa akar masalah sesungguhnya. Kurang mau denger.</p>
<p style="text-align: justify;">Di luar forum diskusi ada tukang jamban dari desa lain di satu kecamatan yang berpengalaman membantu membangun 28 jamban tetangga-tetangganya. Saya sempat mengobrol dengannya. Ternyata, semua yang dia lakukan, dilakukan tanpa bayaran alias amal saja. Padahal, yang diharapkan adalah bisnis jamban alias dia menjadi wirausahawan.</p>
<p style="text-align: justify;">”Saya cari uang dari kerja yang lainnya saja. Kalau saya tarik uang dari mereka yang mau bangun jamban, ya bagaimana ya? Buat hidup saja mereka susah. Ga tega saya, mas,” jelasnya kenapa dia memilih jalur sosial. ”Toh saya cuma mengarahkan. 2 jam saja cukup. Yang bangun kan mereka sendiri,” lengkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tarik di kedalam lalu saya kenalkan dia pada ibu-ibu. Saya kemudian betanya,”Jadi kalau mau buat jamban, berapa uang mesti disiapkan, pak?</p>
<p style="text-align: justify;">”500 ribu atau 400 ribu cukup,” ujar tukang yang penuh amal ini</p>
<p style="text-align: justify;">”Wah, mana bisa pak? Ga cukup pak!!” koor ibu-ibu</p>
<p style="text-align: justify;">”Cukup! Saya sudah buktikan. Tapi suami ibu-ibu yang bangunnya. Jangan panggil tukang!” terangnya</p>
<p style="text-align: justify;">”Suami saya ga bisa bangun, pak. Bagaimana?” tanya seorang ibu</p>
<p style="text-align: justify;">“Semua laki-laki pasti bisa. Gampang sekali caranya. Mau yang kurus pun bisa&#8230;!”ujar si tukang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan, sanitarian yang hadir juga bertubuh kerempeng. Saya tanyakan saja pada si tukang, ”Kalau seperti pak ini bisa bangunnya?”</p>
<p style="text-align: justify;">”Bisa! Bahkan tetangga saya lebih kurus dari bapak dari puskesmas ini,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanya jawab antara sang Tukang yang budiman dan ibu-ibu berlanjut sekitar 30-45 menitan. Ramai sebetulnya, tapi saya banyak diam. Agak sedih juga membayangkan orang mengumpulkan 1 juta dalam waktu 4 tahun. Atau orang-orang Indonesia yang masih buang hajat di sawah, rumpun bambu, parit, sungai, semak dll yang sejenisnya. Indonesia&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">(Ini adalalah catatan samping pekerjaan saya yang mestinya tidak termasuk dalam klausul kontrak kerahasian data)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=749</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi fasilitator yang bisa dipercaya</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=746</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=746#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 23:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[TEKNIK FASILITASI]]></category>
		<category><![CDATA[Fasilitator]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitator terpercaya]]></category>
		<category><![CDATA[membangun kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[trust]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya kalau partisipan kurang mempercayai fasilitatornya? Kurang percaya di sini bukan karena tidak netral, tapi tidak percaya fasilitator bisa membawa proses ke tujuan yang diinginkan partisipan.
Pengalaman Lapangan Kecil menyimpulkan fasilitator akan berkeringkat lebih banyak. Dia kemudian jadi sangat instruktif karena tidak ada inisiatif kelompok yang dapat ditata. Akibatnya, tujuan sulit dicapai.
Menurut Justice dan Jamieson [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/05/foto-artikel-2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-747" style="margin: 3px;" title="foto-artikel-2" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/05/foto-artikel-2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Apa jadinya kalau partisipan kurang mempercayai fasilitatornya? Kurang percaya di sini bukan karena tidak netral, tapi tidak percaya fasilitator bisa membawa proses ke tujuan yang diinginkan partisipan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman Lapangan Kecil menyimpulkan fasilitator akan berkeringkat lebih banyak. Dia kemudian jadi sangat instruktif karena tidak ada inisiatif kelompok yang dapat ditata. Akibatnya, tujuan sulit dicapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Justice dan Jamieson dalam <em>the Facilitators’s Fieldbook</em> (2006) ada 4 hal sederhana yang bisa mengurangi kepercayaan bila dilupakan, tapi sebaliknya, meningkatkan kepercayaan bila dilakukan. Empat hal itu adalah</p>
<ul>
<li><em>Do say what you say you will do</em> (<strong>Say-do congruency</strong>) – Kalau Anda mengatakan A, maka lakukan A</li>
<li><em>Withhold nothing</em> (<strong>The whole truth</strong>) – Sampaikan semua data yang signifikan, tanpa ada yang ditahan atau sembunyikan</li>
<li><em>Disclose sources of data</em> (<strong>Data attribution</strong>) – Sampaikan dari mana data itu berasal</li>
<li><em>Tell the truth-no interpretation</em> (<strong>Accurate representation</strong>) – Sampaikan informasi seperti yang terjadi, hilangkan pendapat pribadi</li>
</ul>
<p>Yang menarik, Justice dan Jamieson mencontohkan hal-hal kecil yang biasa terjadi dalam kerja fasilitasi yang bisa membangun atau menggoyang kepercayaan partisipan. Berikut contohnya.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="197" valign="top"></td>
<td width="197" valign="top"><strong>Membangun</strong></td>
<td width="197" valign="top"><strong>Menggoyang</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="197" valign="top"><strong>Say-do congruency</strong></td>
<td width="197" valign="top">Anda bilang sessi akan dimulai dalam 10 menit, dan   kemudian Anda mulai tepat setelah 10    menit</td>
<td width="197" valign="top">Anda bilang   sessi akan dimulai dalam 10 menit, setelah 10 menit kemudian Anda berkeliling   mencari orang agar berkumpul</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" valign="top"><strong>The whole truth</strong></td>
<td width="197" valign="top">Ketika memperkenalkan kerja fasilitasi pada klien, Anda   menyampaikan bahwa berdasarkan penelitian, hanya 1 dari 3 kerja kelompok   besar yang berhasil</td>
<td width="197" valign="top">Anda   menyampaikan bahwa fasilitasi Anda pasti berhasil</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" valign="top"><strong>Data attribution</strong></td>
<td width="197" valign="top">Dalam kerja fasilitasi, Anda menyampaikan pada partisipan   siapa yang membuat struktur proses/ metode/ teknik yang akan dipraktikkan   bersama (bisa kawan mereka juga)</td>
<td width="197" valign="top">Anda tidak menyampaikan karena khawatir orang tidak akan   suka pada pembuatnya</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" valign="top"><strong>Accurate representation</strong></td>
<td width="197" valign="top">Menyampaikan dengan cara menyebutkan, “Pak ini mengatakan   …”. “Ibu ini mengatakan demikian..”</td>
<td width="197" valign="top">Menyampaikan pendapat-pendapat tanpa menyebutkan siapa yang   mengatakan dan menyampaikan pandangan pribadi   terhadap pendapat-pendapat yang ada</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=746</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkomunikasi Tanpa Modal Orator Ulung</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=742</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=742#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 01:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[TEKNIK FASILITASI]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini orang percaya bahwa keberhasilan komunikasi seorang penyuluh tergantung dari keulungan berorasi atau berceramah. Bila dia menguasai materi, pandai bertutur kata, berani tampil, punya irama yang menghanyutkan, humoris, maka komunikasi akan berhasil. Sebaliknya, bila dia pendiam, pemalu, gugup, kurang menguasai materi, maka umumnya orang menilai komunikasinya alamat gagal.
Apakah betul seperti itu? Jawabannya tidak. Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/05/DSC_1380.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-743" style="margin: 3px;" title="DSC_1380" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/05/DSC_1380-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Selama ini orang percaya bahwa keberhasilan komunikasi seorang penyuluh tergantung dari keulungan berorasi atau berceramah. Bila dia menguasai materi, pandai bertutur kata, berani tampil, punya irama yang menghanyutkan, humoris, maka komunikasi akan berhasil. Sebaliknya, bila dia pendiam, pemalu, gugup, kurang menguasai materi, maka umumnya orang menilai komunikasinya alamat gagal.</p>
<p>Apakah betul seperti itu? Jawabannya tidak. Anda tetap bisa menjadi komunikator yang efektif meski Anda seorang yang pendiam, pemalu, gugupan, atau bahkan rendah diri. Bahkan, bisa lebih efektif dibanding mereka yang tampak sebagai orator ulung.</p>
<p>Kok bisa?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjelaskan lebih lanjut, lebih baik kita menengok dulu apa yang dimaksud dengan komunikasi yang berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan jelas tergantung dari tujuan komunikasi. Pada dasarnya komunikasi bisa ditujukan untuk memberi pengetahuan baru pada khalayak tertentu; menanamkan atau menguatkan sikap atau nilai; ataupun mempengaruhi terbentuknya perilaku tertentu. Jadi, keberhasilan komunikasi tergantung dari apa tujuan komunikasinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencapai tujuan komunikasi, penting untuk kita pahami bahwa komunikasi itu melibatkan komunikator (penyampai pesan) dan juga komunikan (penerima pesan). Dalam pandangan umum, ketika terjadi penyuluhan, yang menjadi komunikator adalah Si Penyuluh (bisa tenaga kesehatan, relawan, tenaga penyuluh lapangan dll), sementara, komunikan adalah ibu-ibu balita atau suaminya atau kelompok masyarakat lainnya. Meski cara pandang itu sah-sah saja, namun dalam praktiknya, kategorisasi seperti itu terlalu menyederhanakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam praktik penyuluhan, seorang penyuluh, selain menjadi komunikator, pun menjadi komunikan. Demikian juga ibu-ibu balita atau bapak-bapak petani. Pada satu saat mereka menjadi komunikan, namun di saat yang lain, mereka pun menjadi komunikator.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba perhatikan. Ketika penyuluh bicara, kadang sebagian ibu-ibu membuat ”diskusi swasta”. Atau, ada kalanya ibu-ibu bertanya atau menjelaskan sesuatu pada penyuluh. Pada saat itu, ibu-ibu menjadi komunikator bukan komunikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kita punya peran berganda dalam proses komunikasi, berganti-ganti dengan cepat atau kadang malah tumpang tindah. Di waktu kita minta orang mendengar kadang ada orang yang lain yang minta didengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya, dalam komunikasi berlaku hukum resiprokal (timbal balik). Kalau ingin didengar, maka dengarkanlah. Kalau ingin disimak, menyimaklah. Kalau ingin idenya diterima, maka terima ide orang lain dengan pikiran terbuka. Kalau ingin mengubah perilaku orang, tunjukkanlah bahwa kita pun bisa dengan mudah merubah perilaku ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Logikanya mudah saja. Bila seorang Ibu merasa didengarkan, dia akan cenderung mendengar. ”Bu Bidan saja mau mendengarkan saya, kenapa saya tidak mau mendengarkan kata-kata Bu Kader?” mungkin begitu kata seorang Ibu balita.</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum resiprokal itu adalah bentuk permukaan dari <em>trust</em> (kepercayaan), yang merupakan fondasi utama berkomunikasi. Tanpa <em>trust</em>, tidak akan terjadi komunikasi. Yang ada hanyalah lemparan-lemparan pesan tanpa harus disimpan (diingat), diterima, diyakini apalagi ditindaklanjuti dengan perilaku.</p>
<p>Dari sini, rasanya cukup jelas bahwa berkomunikasi tidak selalu terkait dengan kemampuan berorasi ulung.</p>
<p style="text-align: justify;">Memahami adanya hukum resiprokal, maka siapapun yang ingin berkomunikasi efektif perlu belajar dan mempraktikkan keterampilan mendengar, bertanya, menyimak, menerima, menghargai dan menindaklanjuti ide-ide.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kembali kepada mereka yang pendiam, pemalu, gugup, atau kurang menguasasi materi, apakah mereka bisa berkomunikasi?</p>
<p style="text-align: justify;">Selama mereka bisa mendengar, menyimak, menerima, menghargai atau menindaklanjuti ide-ide, maka mereka tentu bisa berkomunikasi secara efektif. Pendiam? Selama itu membuatnya bisa menyimak, maka itu menjadi karakter yang ampuh. Rendah diri, malu, gugup atau merasa kurang menguasai materi? Tidak masalah, selama itu membuat kita bersungguh-sungguh ingin belajar dari kelompok, maka itu justru menjadi kekuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang penting bagi penyuluh yang pemalu, rendah diri, pendiam, gugup atau merasa tidak ahli adalah tingkatkan saja keterampilan mendengar, bertanya, menyimak, menghargai, dan menindaklanjuti ide-ide. Tidak terlalu sulit. Apalagi, bagi kebanyakan dari mereka, sudah terbiasa dengan itu semua.</p>
<p>- Risang Rimbatmaja / 816 / 1 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=742</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian untuk Konsensus</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=734</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=734#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 03:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[TEKNIK FASILITASI]]></category>
		<category><![CDATA[konsensus]]></category>
		<category><![CDATA[uji konsenses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Kadang kala meraih konsensus sulitnya bukan main. Ya, karena konsensus bukan sekedar kata setuju di bibir anggota organisasi. Konsensus juga berarti komitmen dan mesti ditemukan secara bersama (process of participative discovery).
Lebih lanjut, Larry Dressler dalam Consensus through Conversation (2006) juga menyarankan sejumlah ujian untuk konsensus (test for consensus) sebagai salah satu langkah dari lima langkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kadang kala meraih konsensus sulitnya bukan main. Ya, karena konsensus bukan sekedar kata setuju di bibir anggota organisasi. Konsensus juga berarti komitmen dan mesti ditemukan secara bersama (<em>process of participative discovery</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih lanjut, Larry Dressler dalam <em>Consensus through Conversation</em> (2006) juga menyarankan sejumlah ujian untuk konsensus (<em>test for consensus</em>) sebagai salah satu langkah dari lima langkah yang dipercaya dapat menemukan konsensus kelompok/ organisasi yang solid dan efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertanya pada kelompok adalah salah satu cara menguji apakah telah muncul konsensus di kelompok. Menariknya, Dressler menekankan bahwa kita mesti bertanya dalam konteks kelompok.</p>
<p>Jadi, jangan bertanya:</p>
<ul>
<li>Apakah ini pilihan utama Anda?</li>
</ul>
<ul>
<li>Apakah ini sesuai dengan tujuan dan kepentingan Anda?</li>
</ul>
<p>Tapi, bertanyalah:</p>
<ul>
<li>Apakah usulan (kesepakatan/ rencana dll) ini bisa Anda terima dan dukung?</li>
</ul>
<ul>
<li>Apakah usulan ini sesuai dengan kriteria yang sudah dibahas bersama?</li>
</ul>
<ul>
<li>Apakah usulan ini merupakan hasil kerja terbaik organisasi saat ini?</li>
</ul>
<ul>
<li>Apakah usulan ini akan merupakan keputusan terbaik bagi organisasi kita?</li>
</ul>
<p>Hasilnya, kemungkinan ada 4 skenario. <span style="text-decoration: underline;">Pertama, </span>semuanya merasa nyaman dan mendukung. <span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, sebagian merasa nyaman dan mendukung, sebagian lain memiliki pertanyaan untuk klarifikasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span> adalah ketika ada sebagian yang menentangnya. Nah, untuk ini perlu diuji, apakah penentangannya <em>legitimate</em> atau tidak. Hanya yang <em>legitimate </em>saja yang perlu ditindaklanjuti. Yang <em>legitimate</em>, misalnya, adalah di mana rancangan keputusan bukan merupakan yang terbaik dari kriteria yang dibuat bersama atau ternyata melanggar kebijakan organisasi yang lebih tinggi dll.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara, skenario <span style="text-decoration: underline;">ke empat</span> adalah ketika anggota kelompok/ organisasi menemui jalan buntu mencari jalan keluar pada keberatan-keberatan yang disampaikan. Dalam pandangan Dressler, yang lebih memilih dialog dari pada <em>voting</em> (yang biasanya tidak menghasilkan komitmen), proses dialog dan pencarian informasi lebih lanjut dibutuhkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=734</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujicoba Penyuluhan Yang Fasilitatif</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=722</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=722#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 09:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA-CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi antarpribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyuluhan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyuluhan fasilitatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[


Jaman berubah, teknik menyuluh juga mesti diubah. Menyuluh tidak bisa sekedar menyampaikan informasi. Di jaman sekarang, warga relatif lebih otonom di mana dia sendirian dapat menentukan apakah akan menerima atau menolak informasi.
Dalam konteks di atas, Lapangan Kecil terlibat dalam ujicoba modul Komunikasi Antarpribadi yang dikembangkan bersama Joana Finchley, dosen komunikasi UNSW (University of New South [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/03/SAG_7162.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-723" style="margin: 3px;" title="SAG_7162" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/03/SAG_7162-150x150.jpg" alt="" width="153" height="153" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7211.jpg"><img class="alignnone" title="SAG_7211" src="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7211-150x150.jpg" alt="" width="152" height="152" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7180.jpg"><img title="SAG_7180" src="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7180-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><a href="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7258.jpg"><img title="SAG_7258" src="../wp-content/uploads/2010/03/SAG_7258-150x150.jpg" alt="" width="152" height="152" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jaman berubah, teknik menyuluh juga mesti diubah. Menyuluh tidak bisa sekedar menyampaikan informasi. Di jaman sekarang, warga relatif lebih otonom di mana dia sendirian dapat menentukan apakah akan menerima atau menolak informasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks di atas, Lapangan Kecil terlibat dalam ujicoba modul Komunikasi Antarpribadi yang dikembangkan bersama Joana Finchley, dosen komunikasi UNSW (<em>University of New South Wales</em>) Australia yang saat ini tengah menjadi konsultan NICE (<em>Nutrition Improvement for Community Empowerment</em>) Kementerian Kesehatan (d/h Depkes) dengan dana ADB.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sekitar 12 teknik didiskusikan selama sekitar 2 jam bersama 10 kader Posyandu di RW 04 Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara. Setelah itu, sekitar 1 jam kesepuluh kader itu mengikuti sessi praktik bersama 10 warga yang tinggal di RW itu. Satu kader mendapat giliran sekitar 2-3 kali sessi penyuluhan pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Teknik yang didiskusikan sebetulnya teknik-teknik dasar seperti komunikasi nonverbal seperti senyum, sentuhan, jarak sosial/ komunikasi dan gesture lainnya. Namun, sesssi ujicoba itu menekankan penjiwaan dan penggunaan dengan kreatif. ”Senyum bukan hanya membuat klien kita nyaman, tapi juga membuat kita sendiri nyaman,” ungkap seorang narasumber.</p>
<p>Sessi ujicoba juga melatih teknik bertanya partisipan. ”Penyampaian pesan mesti dilakukan ketika klien kita mau menerima pesan. Kita mau menerima pesan ketika kita bersikap terbuka dan berhasrat untuk menerima pesan,” pesan fasilitator.</p>
<p style="text-align: justify;">”Kadang kita ingin membuat partisipan bersikap terbuka dan berhasrat dengan cara mengatakan: ayo santai ya, santai saja, bu/ pak atau ayo kita mesti berpikiran terbuka dan lain-lain. Tapi, itu tentu saja tidak akan berhasail,” ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sessi itu ditekankan bahwa pendekatan fasilitatif menggunakan teknik-teknik bertanya yang menyenangkan dan memberi ruang bagi partisipan. ”Kalau orang ditanya dan kemudian bercerita dan di lain pihak, penyuluh mendengar dengan seksama, maka kemungkinan dia akan melakukan hal serupa (mendengar) ketika penyuluh bercerita,” imbuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bertanya ibarat memberi ruang bagi partisipan untuk memiliki ruang dan waktu untuk kemudian membuka diri. Bila kemudian dia sudah berhasrat, menyuluh menjadi pekerjaan yang mudah dan menyenangkan,” pesannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=722</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari FNS – Facilitator Network Singapore</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=717</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=717#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 15:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA-CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Facilitation Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[FNS]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop Fasilitaasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, tahun 2008, dua fasilitator Singapore, Prabu Naidu dan Janice Lua mengisi sessi belajar fasilitasi IFN – Indonesia Facilitator Network di Jakarta. Topiknya The Art and Science of Facilitation.
Pada kesempatan itu Prabu dan  Janice melakukannya secara pro bono alias gratisan. Tiket pesawat pun tidak berkenan untuk diganti. Secara ekplisit, kala itu fasilitator Lapangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dua tahun lalu, tahun 2008, dua fasilitator Singapore, Prabu Naidu dan Janice Lua mengisi sessi belajar fasilitasi IFN – Indonesia Facilitator Network di Jakarta. Topiknya Th<a href="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/02/SAG_7118.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-718" style="margin: 3px;" title="SAG_7118" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2010/02/SAG_7118-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>e Art and Science of Facilitation.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan itu Prabu dan  Janice melakukannya secara pro bono alias gratisan. Tiket pesawat pun tidak berkenan untuk diganti. Secara ekplisit, kala itu fasilitator Lapangan Kecil yang menjadi anggota IFN berjanji suatu saat akan balik mengunjungi FNS.</p>
<p style="text-align: justify;">“Butuh dua tahun untuk akhirnya Anda datang ke Singapore. Tapi, that’s fine, you&#8217;ve kept your promise,” ujar Prabu membuka sessi FFW – Foundational Facilitation Workshop yang diikuti sekitar 16 partisipan termasuk sektor bisnis, pendidikan, kementerian pertahan dan angkatan udara.</p>
<p style="text-align: justify;">Lapangan Kecil menjadi observer sekaligus partisipan aktif selama tiga hari berturut-turut (24-26 Februari 2010) yang bertempat di Fort Canning Lodge, dekat jalan terkenal, Orchad Road.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada intinya FNS banyak berkiblat pada model fasilitasi Ingrid Bens, bahkan mereka menggunakan bukunya sakunya, Facilitation at a Glance. Tapi, mereka juga mengangkat banyak pengalaman praktik, baik di sektor bisnis maupun publik. Permintaan akan fasilitator memang cukup tinggi karena banyak organisasi di sana ingin menggalang partisipasi serta membangun komitmen anggotanya. Persaingan yang sangat tinggi di sektor bisnis membuat banyak organisasi membutuhkan karyawan yang berkomitmen tinggi. Sementara, di sektor publik, perubahan generasi dan tuntutan publik telah mengedepankan aspek partisipasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh yang mengagetkan, sebagian partisipan ternyata staf Kementerian Pertahanan dan Angkutan Udara yang berusia relatif muda. Bicara dengan mereka, ternyata di tingkatan manajemen, keputusan diambil secara partisipatif. ”Kita sudah tidak bisa asal instruksi lagi sekarang. Sudah bukan jamannya lagi,” ujar salah satu dari mereka. ”Tapi di lapangan, berhadapan dengan tugas lapangan, sifatnya tentu komando,” dia melengkapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sessi tiga hari itu diisi oleh 30% teori dan 70% praktik. Dua fasilitator senior, Prabu Naidu dan Ng Choon Seng membantu proses belajar partisipan. Banyak yang didapat dari sessi itu. Di akhir acara, Choon Seng memberi sebuah buku menarik yang pas sekali dengan pendekatan utama Lapangan Kecil, <em>Consensus through Conversation</em> karya Larry Dressler.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=717</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sessi Belajar Fasilitasi di FK Atmajaya</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=709</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=709#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 06:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA-CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Latihan fasilitator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Apakah profesi dokter membutuhkan keterampilan fasilitasi? Pertanyaan itu membuka sessi belajar fasilitasi di kelompok mahasiswa penggiat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya (14/12/09).
Dari kaca mata Lapangan Kecil keterampilan fasilitasi bisa berguna dalam membangun komunikasi antarpribadi (misalnya, antara dokter dan pasien). Dalam konteks kerja kerja kelompok, keterampilan fasilitasi dapat membantu kerja kelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-713" title="m_diskusi-4" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/12/m_diskusi-4-300x199.jpg" alt="m_diskusi-4" width="300" height="199" />Apakah profesi dokter membutuhkan keterampilan fasilitasi? Pertanyaan itu membuka sessi belajar fasilitasi di kelompok mahasiswa penggiat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya (14/12/09).</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-714" title="m_feedback" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/12/m_feedback-300x199.jpg" alt="m_feedback" width="300" height="199" />Dari kaca mata Lapangan Kecil keterampilan fasilitasi bisa berguna dalam membangun komunikasi antarpribadi (misalnya, antara dokter dan pasien). Dalam konteks kerja kerja kelompok, keterampilan fasilitasi dapat membantu kerja kelompok HACCP dalam mengembangkan dialog bersama mitrany<img class="alignleft size-medium wp-image-707" title="m_baca-feedback" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/12/m_baca-feedback-300x199.jpg" alt="m_baca-feedback" width="300" height="199" />a (produsen/ penjual makanan).</p>
<p>Sessi belajar bersama menekankan praktik keterampilan dasar fasilitasi seperti mengenal dan berkenalan, teknik mendengar aktif dan bertanya, memberi dan menerima umpan maju, curah pendapat, dan beberapa teknik penggunaan alat bantu seperti meta<img class="alignleft size-medium wp-image-708" style="margin: 3px;" title="m_brainstorming" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/12/m_brainstorming-300x199.jpg" alt="m_brainstorming" width="300" height="199" /> plan cards.</p>
<p>Dibuka oleh dekan FK Unika Atmajaya, sessi ini berlangsung sekitar 5 jam dan diikuti oleh 20 mahasiswa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=709</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fasilitator atau trainer atau…?</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=693</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=693#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 05:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[TEKNIK FASILITASI]]></category>
		<category><![CDATA[Facilitator]]></category>
		<category><![CDATA[Fasilitator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[

Belakangan ini istilah fasilitator kerap disebut-sebut dalam berbagai projek pembangunan. Ia menjadi kian populer, bahkan mungkin lebih populer ketimbang sejumlah tenaga lapangan yang muncul sebelumnya, seperti penyuluh, pendamping, community trainer, ataupun community organizer. Istilah bisa berbeda, tapi pada praktiknya, apakah perannya betul-betul berbeda? Bagaimana cara mudah untuk melihat apakah suatu proses adalah fasilitasi atau bukan?

Pengertian
Fasilitasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!--[if !mso]><br />
<mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[endif]-->Belakangan ini istilah fasilitator kerap disebut-sebut dalam berbagai projek pembangunan. Ia menjadi kian populer, bahkan mungkin lebih populer ketimbang sejumlah tenaga lapangan yang muncul sebelumnya, seperti penyuluh, pendamping, <em>community</em> <em>trainer</em>, ataupun <em>community organizer</em>. Istilah bisa berbeda, tapi pada praktiknya, apakah perannya betul-betul berbeda? Bagaimana cara mudah untuk melihat apakah suatu proses adalah fasilitasi atau bukan?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Pengertian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Fasilitasi berasal dari kata Perancis, <em>facile</em> dan Latin <em>facilis</em>, yang artinya mempermudah (<em>to facilitate</em> = <em>to make easy</em>). Jadi, secara superfisial fasilitator bisa diartikan sebagai orang yang mempermudah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dalam praktiknya, k</span><img class="alignleft size-medium wp-image-694" style="margin: 3px;" title="foto-artikel-1" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/09/foto-artikel-1-300x295.jpg" alt="foto-artikel-1" width="202" height="199" /><span lang="SV">ata ”memper</span><span lang="SV">mudah” memiliki arti</span><span lang="SV"> berbeda bagi orang berbeda. Dalam dunia birokrasi, memfasilitasi kerap dimaklumi sebagai pemberian fasilitas, entah dalam bentuk dana, sarana, alat dll. Sehingga memfasilitasi adalah memberi sesuatu yang mempermudah penyelesaian suatu pekerjaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dalam sejumlah projek pembangunan, pengertian fasilitasi mengarah pada ”mempermudah” dengan cara memberi bantuan teknis (keterampilan, informasi, dll) pada masyarakat. Karena itu, kita mengenal fasilitator dengan keterampilan teknis </span><img class="alignleft size-medium wp-image-695" style="margin: 3px;" title="foto-artikel-2" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/09/foto-artikel-2-241x300.jpg" alt="foto-artikel-2" width="210" height="260" /><span lang="SV">yang spesifik seperti fasilitator air dan sanitasi, fasilitator kesehatan masyarakat, mikro kredit, gizi masyarakat, dan lain-lain. Di sini, fasilitasi merujuk pada pengelolaan partisipasi masyarakat sekaligus pemberian keterampilan, informasi, atau pilihan-pilihan metode atau teknologi untuk diadopsi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Perspektif global tentang fasilitator tampaknya berbeda dengan pengertian-pengertian di atas. Prinsip utama fasilitasi adalah proses, bukan isi. </span>Seperti dijelaskan Hunter <em>et al,</em> (1993), <em>facilitation is about process – how you do something – rather than the content – what you do</em>. <em>Facilitator is process guide; someone who makes a process easier or more convenient to use</em>.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dalam buku wajib profesi fasilitator yang diterbitkan IAF (<em>International Association of Facilitators)</em>, <em>The IAF</em> <em>Handbook of Group</em> <em>Facilitation: Best Practice from the Leading Organization in Facilitation</em> (2005), Schwarz menekankan bahwa tugas utama fasilitator adalah membantu kelompok untuk meningkatkan efektivitas dengan cara memperbaiki proses dan struktur. Proses mengacu pada bagaimana kelompok bekerja, semisal bagaimana mereka bicara satu sama lain (berkomunikasi), bagaimana membuat keputusan ataupun mengelola konflik. <span lang="SV">Sementara, struktur mengacu pada proses yang stabil dan berulang seperti pembagian peran dalam kelompok. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Singkatnya, fasilitator adalah orang yang membantu anggota kelompok berinteraksi secara nyaman, konstruktif, dan kolaboratif sehingga kelompok dapat mencapai tujuannya. Untuk itu semua, seperti ditekankan Kaner (<em>Facilitator’s Guide to Participatory Decision Making</em>, 2007), fasilitator mesti netral dalam isi (<em>content-neutral</em>). Artinya, isi pembicaran kelompok, seperti bagaimana keadaan suatu masyarakat atau apa solusi yang tepat untuk suatu masalah, adalah urusan kelompok, dan bukan wilayah intervensi fasilitator. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Paradigma dan keterampilan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Berposisi netral terhadap isi dan hanya menggarap proses bukannya tanpa alasan. Bila fasilitator tidak netral atau memihak pada satu pendapat/ pilihan ataupun masuk terlibat dalam isi pembicaraan dengan memberi penilaian ataupun opini, maka proses kelompok dikhawatirkan terganggu. Akibatnya, hasil kelompok tidak dipercaya sebagai hasil kerja kelompok. Bila sudah demikian, maka lupakanlah <em>project</em> <em>ownership</em> ataupun <em>sustainability</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Agar berfokus pada proses dan berposisi netral, fasilitator mestilah memiliki paradigma sekaligus teknik-teknik yang mendukung. Secara paradigmatik, seorang fasilitator mesti berkeyakinan bahwa semua anggota kelompok ataupun partisipan pertemuan memiliki kemampuan dan dapat mencari jalan keluar secara bersama-sama. Adalah hak dan tanggung jawab mereka untuk memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan. Dalam fasilitasi, warga atau anggota kelompok adalah subjek dalam pengertian sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI"><img class="alignleft size-medium wp-image-696" style="margin: 3px;" title="proses-content" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/09/proses-content-300x225.jpg" alt="proses-content" width="355" height="267" />Fasilitator yang tergabung dalam FNS (<em>Facilitators Network Singapore</em>) menggambarkan posisi proses dan isi (<em>content</em>) dalam diagram kontinual. Pelatihan (training) bobotnya lebih pada isi (<em>what</em>?), sementara fasilitasi di proses (<em>how</em>?). Dalam praktiknya, tidak tertutup kemungkinan yang terjadi adalah di tengah, yakni pelatihan yang menggunakan teknik-teknik fasilitasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype  id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t"  path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style='width:279pt;  height:209.25pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\RISANG\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\RISANG\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg"   o:title="proses-content" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Dari sisi teknis, keterampilan utama fasilitator adalah bertanya (yang didapat dari hasil mendengarkan). Sedemikian pentingnya, banyak fasilitator profesional yang menyimpulkan bahwa fasilitasi adalah fungsi dari bertanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Dengan bertanya, fasilitator memposisikan dirinya netral untuk kemudian membuka dan mengundang partisipasi, yang kemudian dikelola dalam dialog lalu mengerucutkan pada suatu kesepakatan bersama. Secara singkat, ada tiga pembabakan penting, yakni divergensi (memfasilitasi munculnya keragaman ide), dialog (mempertemukan dan mendialogkan ide-ide), dan kemudian konvergensi (mengerucutkan ide-ide).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Cara mudah mengindikasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Lantas, bagaimana cara mudah melihat apakah suatu pertemuan warga cenderung merupakan bentuk fasilitasi (fokus pada proses dan netral) ataukah penyuluhan, pelatihan atau pendampingan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Cara-cara mudah memang belum tentu akurat dan sifatnya simptomik saja. Namun, sebagai indikasi awal mungkin dapat dimanfaatkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span lang="FI">1 ½ menit bicara sudah terlampau banyak </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Proses fasilitasi adalah proses percakapan dan diskusi warga/ anggota kelompok. Karenanya, fasilitator bicara jauh lebih sedikit. Kecuali di bagian-bagian pengantar yang mungkin sedikit agak panjang, fasilitator bicara tidak lebih dari 1 ½ menit. Fasilitator lebih banyak bertanya dan bertanya hanya memakan waktu sekitar 10 detik. Bila dijumpai fasilitator yang bicara panjang lebar, bahkan lebih panjang dari warga, maka patut diduga bahwa yang terjadi bukanlah fasilitasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span lang="SV">Aktivitas diskusi berpusat pada warga/ anggota</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Banyak foto di artikel-artikel atau laporan-laporan kegiatan fasilitasi menggambarkan fasilitator tengah beraksi. Ada yang menggambarkan fasilitator bicara, sementara anggota kelompok memperhatikan. Ada pula foto yang memperlihatkan seorang warga/ anggota kelompok berbicara pada fasilitator. Foto memang hanya penggalan sesaat proses yang panjang, namun bila foto-foto itu merepresentasikan keseluruhan proses, maka yang terjadi mungkin bukan fasilitasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dalam proses fasilitasi, diskusi atau interaksi terbanyak terjadi antar-anggota. Di tahap divergensi, fasilitator memang mengambil posisi sentral untuk mengumpulkan ide atau pendapat. Namun, divergensi, semisal dengan <em>brainstorming</em>, sebetulnya merupakan tahapan yang paling singkat. Bahkan, dalam divergensi dengan teknik <em>brainwriting</em> sosok fasilitator akan menghilang. Karenanya, yang mestinya dominan adalah interaksi antar-anggota ketimbang anggota kelompok/ warga dengan fasilitator.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span lang="SV">Pengaturan tempat duduk</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ruh fasilitasi mesti juga diterjemahkan dalam <em>setting</em> tempat duduk. Dalam fasilitasi, pengaturan mesti merefleksikan persamaan kedudukan antar-anggota dan juga ruang interaksi antar-anggota kelompok. Jadi, fokusnya bukan hanya pengaturan yang membuat fasilitator dapat dengan mudah melihat semua anggota kelompok, namun juga anggota mesti dapat dengan mudah saling melihat. Bila tempat duduk diatur dengan <em>setting</em> kelas sekolah yang konvensional (berbaris/ kotak), agak sulit mengharapkan proses fasilitasi terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span lang="SV">Kami melakukannya sendiri!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ketika berkunjung ke berbagai komunitas untuk belajar projek ini itu, mungkin kerap didengar dari warga bahwa perbaikan di masyarakat terjadi karena adanya kehadiran organisasi ini itu. Bila yang didengar <span style="text-decoration: underline;">hanyalah</span> ”Ini terjadi karena ada organisasi ini itu”, maka prosesnya boleh dipertanyakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="PT-BR">Fasilitasi berfokus pada anggota kelompok/ warga. Sehingga, bila mencapai sesuatu, mereka mestinya merasa “Yes, we did it!”; “Ya, kami berhasil melakukannya!” Bila pun ada orang atau organisasi luar yang hadir, warga mestinya dapat mengidentifikasi peran fasilitasi mereka. Secara ekstrim warga bisa saja berkata: “Pencapaian ini adalah hasil rembuk dan kerja warga di sini. Memang, ada kawan dari organisasi X yang datang membantu kami berembuk. Tapi, dia lebih bertanya-tanya dan kadang, mencatat-catat. Ide dan keputusan berasal dari kami murni!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="PT-BR">Kembali perlu ditekankan bahwa empat hal di atas adalah cara mudah untuk mengindikasi atau menduga apakah yang terjadi adalah proses fasilitasi. Seperti kebanyakan “cara mudah”, banyak kelemahan yang menempel. Lebih baik, tentu saja, kita belajar dari dekat atau bahkan terlibat langsung, dan berusaha melihatnya dari berbagai kacamata. (Risang Rimbatmaja)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p><span lang="IT"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=693</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjajal semi OST (Open Space Technology) di Meeting FKGK</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=685</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=685#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 15:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA-CERITA]]></category>
		<category><![CDATA[meeting facilitator]]></category>
		<category><![CDATA[mengelola meeting]]></category>
		<category><![CDATA[Open Space Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[
 

Ada yang berbeda di pertemuan semesteran Forum Komunikasi Gizi dan Kesehatan (31 Juli 2009). Pertemuan yang berlangsung di Seameo UI mencoba-coba gaya yang lebih partisipatif seperti OST (Open Space Technology).

Tapi, tidak full, tentu hanya semi OST. Seperti dialami banyak fasilitator, OST mesti dikenalkan selangkah demi selangkah. OST yang mendadak kerapkali membuat kabur partisipan. 
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-686" style="margin: 3px;" title="m_mentah-fkgk-4" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/08/m_mentah-fkgk-4-300x199.jpg" alt="m_mentah-fkgk-4" width="300" height="199" />Ada yang<span> </span>berbeda di pertemuan semesteran Forum Komunikasi Gizi dan Kesehatan (31 Juli 2009). Pertemuan yang berlangsung di Seameo UI mencoba-coba gaya yang lebih partisipatif seperti OST (<em>Open Space Technology</em>).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Tapi, tidak <em>full</em>, tentu hanya semi OST. Seperti dialami banyak fasilitator, OST mesti dikenalkan selangkah demi selangkah. OST yang mendadak kerapkali membuat kabur partisipan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sekedar latar belakang, apakah OST itu? </span></p>
<p><span lang="SV"><img class="alignleft size-medium wp-image-687" style="margin: 3px;" title="m_mentah-fkgk-3" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/08/m_mentah-fkgk-3-300x199.jpg" alt="m_mentah-fkgk-3" width="300" height="199" />OST sebetulnya bukan teknik pertemuan yang baru. Penggagasnya, Harrison Owen, justru percaya OST sudah setua manusia. OST itu dipandang sebagai bentuk naluriah pertemuan antara manusia. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dalam konteks modern, pertemuan justru dapat membatasi kemampuan manusia. Mungkin kita biasa mengamati (atau mengalami!) bahwa pembicaraan, kesepakatan, negosiasi, ataupun kesepemahaman terbaik justru terjadi di luar ruang pertemuan. Hal-hal terbaik justru terjadi pada saat rehat kopi atau makan siang atau pada saat melipir ke luar ruangan. Lho? Jadi kenapa ruh seperti pembicaraan di rehat kopi atau makan siang yang dikembangkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><img class="alignleft size-medium wp-image-688" style="margin: 3px;" title="m_mentah-fkgk" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/08/m_mentah-fkgk-300x199.jpg" alt="m_mentah-fkgk" width="300" height="199" />Dalam OST, tidak ada agenda, pemimpin rapat dll. Orang bisa menawarkan apa yang ingin didiskusikan dan datang ke kelompok diskusi yang dia inginkan atau meninggalkan yang dia tidak berkontribusi ataupun belajar darinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ada 4 prinsip dan 1 hukum yang kerap diikuti. </span>Prinsipnya adalah <span>1)<em>Whoever comes is the right people</em></span>. Hal mendasar adalah orang yang memiliki kepedulian. Dengan muncul di sebuah kelompok diskusi, dia menunjukkan kepedulian, 2)<span> <em>Whatever happens is the only thing that could have</em></span>, 3)<span><em>Whenever it starts is the right tim</em>e</span> dan 4) <span><em>When it’s over it’s over</em>.</span> Sementara, hukum OST adalah <em>Law of Two Feet </em><span>yang prinsipnya adalah: bila Anda tidak belajar atau berkontribusi pada sebuah kelompok diskusi, maka gunakan dua kaki Anda untuk pergi dari suatu kelompok menuju kelompok yang lebih memberi pembelajaran dan Anda sendiri mau berkontribusi. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-689" style="margin: 3px;" title="m_mentah-fkgk-2" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/08/m_mentah-fkgk-2-300x199.jpg" alt="m_mentah-fkgk-2" width="300" height="199" />Lantas bagaimana sebagian prinsip OST diterapkan di pertemuan FKGK. Yang terjadi adalah 1) pengacakan partisipan dan dilanjutkan dengan proses berkenalan, 2) presentasi narasumber, 3) dengan metaplan cards semua partisipan mengajukan topik-topik untuk dibuat diskusi kelompok, 4) partisipan mendiskusikan, mengelompokkan dan memilih topik-topik untuk diskusi kelompok. Di sini muncul 3 topik/ kelompok, 5) pemilik topik terpilih menjadi fasilitator sementara partisipan bebas memilih kelompok diskusi, 6) putaran berikutnya, partisipan berpindah-pindah kelompok/ topik, dan 7) partisipan mencoba membuat rangkuman/ kesepemahaman diskusi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Tidak terasa 4 jam pertemuan lewat begitu saja. Mungkin benar juga pendapat bahwa ketika manusia diberi situasi pertemuan yang sesuai dengan nalurinya, maka semangatnya akan membumbung tinggi</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=685</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menilai Proses Meeting</title>
		<link>http://www.lapangankecil.org/?p=670</link>
		<comments>http://www.lapangankecil.org/?p=670#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 14:31:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PANDUAN]]></category>
		<category><![CDATA[meeting]]></category>
		<category><![CDATA[Penilaian meeting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lapangankecil.org/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[Meeting adalah salah satu kegiatan pokok dalam organisasi. Kalau dihitung, ada ribuan atau bahkan puluhan ribu meeting setiap harinya. Tapi, pernahkah kita menilai meeting yang kita fasilitasi untuk kemudian kita buat perbaikan pada meeting selanjutnya?
Meski menjadi kegiatan penting organisasi, sangat sedikit yang melakukan penilaian terhadap proses meeting. Berikut adalah panduan sederhana yang sesekali bisa diaplikasikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-676" style="margin: 5px;" title="meeting" src="http://www.lapangankecil.org/wp-content/uploads/2009/08/meeting-300x261.jpg" alt="meeting" width="232" height="202" />Meeting adalah salah satu kegiatan pokok dalam organisasi. Kalau dihitung, ada ribuan atau bahkan puluhan ribu meeting setiap harinya. Tapi, pernahkah kita menilai meeting yang kita fasilitasi untuk kemudian kita buat perbaikan pada meeting selanjutnya?</p>
<p>Meski menjadi kegiatan penting organisasi, sangat sedikit yang melakukan penilaian terhadap proses meeting. Berikut adalah panduan sederhana yang sesekali bisa diaplikasikan setelah melakukan meeting.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 13pt; font-family: Arial; letter-spacing: 4pt;">- Lembar Penilaian Pertemuan- </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Tanggal/ Topik<strong><span> </span>: _____________________________</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Tidak diberi nama</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"><br />
</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">1. Meeting kita hari ini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Fokus                  <span> </span><span> </span>1 <span> </span>2 <span> </span>3 <span> </span>4   Bercabang-cabang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Produktif              <span> </span>1 <span> </span>2 <span> </span>3 <span> </span>4   <span> </span>Sia-sia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Menambah enerji <span> </span></span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">1 <span> </span>2 <span> </span>3 <span> </span>4<span> </span>Menguras enerji</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">2. Tujuan meeting</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Jelas                    <span> </span><span> </span>1 <span> </span>2<span> </span>3<span> </span>4   <span> </span>Membingungkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Tercapai              <span> </span><span> </span>1 <span> </span>2 <span> </span>3 <span> </span>4    Meleset</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">3. Kecepatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Terlalu cepat (1)<span> </span>Cukup (2)<span> </span> Terlalu Lambat(3)</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">4. Saya mendapat kesempatan berpartisipasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Ya(1)<span> </span><span> </span>Cukup(2)<span> </span>Tidak(3)</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">5. Saya merasa pendapat saya didengarkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Ya(1)<span> </span><span> </span>Cukup(2)<span> </span>Tidak(3)</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">6. Meeting berikutnya mestilah….</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Lebih banyak: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Kurangi :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">______________________________________________________</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lapangankecil.org/?feed=rss2&amp;p=670</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
